November 6, 2010

Surat yang tak sampai

| November 6, 2010
Surat yang tak sampai. Malam itu saya duduk dimeja didepan TV, tempat dimana biasanya saya dan teman-teman saya bercengkrama melepas penat sehabis kerja, saat itu sedang hangat-hangatnya peristiwa gunung Merapi meletus, Kondisi mbah marijan yang masih misterius. Dan kemarin si wedhus gembel yang kembali meluapkan hawa panasnya.

Dalam jangka waktu yang tidak lama dari peristiwa itu gempa dan Tsunami mentawai terjadi. Ratusan saudara-saudara kita yang menjadi korban perlu mendapat pertolongan. Sekali lagi pertolongan terhambat karena jalur transportasi yang terbatas. Lho aku terus ndomblong mikir, padahal negara kita ini adalah negara kepulauan.

Jadi tuntutan harapan saya yang pertama adalah pembangunan merata. "boro-boro pembangunan, wilayah kelautan kita aja sering disusupi dari luar". Ya pembangunan kan tidak bisa serta merta, ya harus bertahap sedikit demi sedikit yang penting konsisten, bukan begitu. Dan satu lagi NKRI hargi mati. Usul dari saya kuatkan bidang pertahanan negara ini. Demi NKRI. Coba deh tengok negara yang maju pasti pengembangan bidang pertahanannya juga maju.

Disaat kita merasa haru dengan kondisi yang dialami saudara kita eh muncul isu konyol dan kurang logis yang dimunculkan oleh pembantu-pembantu kita (rakyat) di pemerintahan *Baca DPR*. Lakonnya "Belajar Tata Krama ke Yunani". Kalo belajar tata krama kenapa nggak ke Solo saja, dijamin jika diaplikasikan dengan benar akan terbentuk pribadi yang santun dan berbudi. Yang terbaru lagi studi keluar negeri tentang rancangan undang-undang. kalau menurutku pengembangang sistem seperti itu kurang tidak efektif.

Tentu saya mengatakan hal demikian tidak asal "njeplak" saja. Pendekatan opini saya dibawah ini barang kali bisa mempertegas pernyataan saya diatas. Satu, Kunjungan keluar negeri ini sudah pasti menghabiskan banyak biaya (boros), belum tentu penyerapan transfer ilmu akan maksimal dengan cara singkat seperti itu. Logikanya kalau orang banyak melakukan perjalanan konsentrasi akan berkurang. Dari pengalaman yang sudah-sudah saat acara kuliah dulu jika studi banding yang paling berkesan adalah jalan-jalannya (manusiawilah).

Terus solusi dari aku, jika memang berniat mengambil nilai positif dari sebuah sistem, katakanlah mengenai sistem keuangan, salah dong jika menggunakan sistem studi banding. Cari saja orang Cerdas dan Jenius masalah system keuangan. Cari dua atau tiga. Plotkan mereka ditempat dimana akan belajar. Kalau perlu gaji yang besar, namun mereka harus fokus dan sungguh-sungguh menyerap ilmu, mempelajari, dan menularkan ilmu tersebut nantinya serta mengimplemantasikan jika memang cocok. Simpel dan lebih masuk akalkan.

Kedua jika berfikir lebih dalam lagi, mengadopsi system atau undang-undang atau apapun, lebih rawan terhadap infiltrasi kepetingan asing. Kalau sudah begini kembali lagi "NKRI Harga Mati".

Terus pesanku buat saya sendiri dan para pemuda bangsa, boleh kita bekerja siang malam, ngumpulkan duwit buat masa depan, keluarga, namun luangkan sedikit waktu dan pikiran untuk berkontribusi buat negara ini. Minimal pemikiranlah. Terus kalau mau menolong saudara-saudara kita ya apalagi yang ditunggu orang gunungnya sudah meletus, tsunami sudah melanda!
Perubahan itu tidak gampang, tapi ayolah kita satukan semangat, merubah dari diri sendiri. Setiap dari kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan selalu diminta pertanggung-jawabannya.

Related Posts

3 comments:

  1. hmmm..seperti les private untuk bapak2 yg terhormat itu
    iya khan Mas hehe
    saya setuju itu..lebih effektif dan efisien
    :)

    jika tidak atau belum mampu merubah negara
    setidaknya orang kecil seperti saya
    mulai perubahan itu dari diri sendiri
    :)

    ReplyDelete