Ketika semua manusia sibuk dengan urusannya
Ketika dinginnya malam mulai menyejukkan raga
Saat dimana insan manusia ditinggal rohnya yang akan kembali
Saat raja siang tidak diperaduannya
Dengan segala daya dan upaya sebagai manusia
Kucoba ukirkan secuil rangkaian kalimat
Sebagai inspirasi menyambut waktu yang segera menjelang
dengan menghilangkan segala godaan untuk berbuat malas
Malam dingin semakin larut dalam selimut rembulan
waktu yang tepat bagi mahluk yang serba tiada puas
untuk merenungi segala tinggkah laku yang telah diperbuat
mencoba menghilangkan segala ketegangan
Berlari dalam menyelesaikan tujuan
menciptakan atmosfer dalam kekuatan impian
memacu detak jantung untuk semakin bersemangat
memompa setiap nadi untuk berexplorasi
Dunia akan bangga ketika jiwa kecil manusia
Berikrar terhadap impian – impian kecilnya
Ketika jiwa yang kecil yang kita miliki ini
Mampu merubah segalanya
Kali ini kita mengunjungi salah satu sudut kota Pare yg cukup terkenal bagi warga Pare dan sekitarnya…yak betul Alun-alun Thamrin. Sebetulnya yang disebut Alun-alun Thamrin oleh warga Pare adalah taman kota yang berlokasi di bekas lapangan Persendo (nah apa itu Persendo, penulis sendiri juga belum menemukan narasumber pastinya).
Taman kota ini sendiri dibangun untuk mengenang pencapaian Pare yang pernah mendapat Piala Adipura untuk kategori kota kecil. Ya, piala yang dulu pernah diberikan kepada kota-kota yg berpredikat “Terbersih” itu pernah didapat Pare sebanyak 2 kali (tepatnya kapan penulis lupa). Karena Pare tidak mempunyai alun-alun sebagaimana kota lainnya (justru alun-alun Pare jaman Belanda dulunya adalah bertempat di terminal angkota dekat pasar Pare), maka warga Pare menganggap taman tersebut sebagai alun-alun.
Nama Thamrin ini yg aneh..karena di Pare tidak ada jalan atau bangunan dengan nama MH. Thamrin, nama pahlawan nasional kita. Menurut sumber yang tidak bisa dipercaya kebenarannya, warga Pare menyebut taman ini dg Taman Ringin Budho (disingkat Tamrin….). Ringin Budho itu apa, mungkin akan dibahas di lain waktu. Nah, jadilah nama Alun-alun Thamrin itu.
Di malam hari, terlebih-lebih malam Minggu, Thamrin dipenuhi oleh warga Pare, baik tua maupun muda tumplek blek di sini. Tak ada aktivitas khusus di sana, ya sekedar kongkow, mejeng, atau bahkan momong anak…Pedagang kaki lima ? Jangan tanya lagi…penuh sesak. Mulai dari penjual makanan, mainan, minuman, dan lainnya bersaing di sini. Untungnya, kebersihan taman ini tetap terjaga. Lihatlah dari foto-foto berikut, yang diambil pada Minggu pagi tanggal 27 Januari 2008, beberapa orang petugas kebersihan membersihkan sampah-sampah di seputar taman.
Ya syukurlah..biasanya kebanyakan orang kita itu pintar membangun tapi tidak pintar merawat. Keberadaan Alun-alun Thamrin memang cukup dsc00132.jpgdirasakan manfaatnya bagi warga Pare yang haus akan adanya ruang terbuka untuk publik di kotanya. Seharusnya taman seperti ini ditambah lagi jumlahnya di tempat lain di sudut kota Pare. Kelak mungkin warga Pare juga bisa menikmati taman yg seperti di kota-kota besar. Ada fasilitas bermain dan belajar, yang dilengkapi dengan fasilitas bermain untuk anak-anak, ada hotspot WIFI bagi mereka yg ingin “surfing internet” di taman, dan yang terpenting memberi pelajaran bagi warga kota akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup, demi kenyamanan hidup di kota yang semakin panas ini. Semoga kelak mimpi itu terwujud