Category: Uncategorized

Uncategorized

Finally I accomplish my job at Makassar

Judulnya pake bahasa Inggris *biar dibacanya agak sok sedikit*. Finally i accomplish my job at makassar and i must go to number one crowded city Jakarta. *setopp inggrisnya*. Rasanya seperti De Javu saja, setiap menyelesaikan tugas diluar daerah dan harus ke Jakarta.

Suasana kantor update 11-8-2012

Saya seolah mengalami siklus tahunan yang sama seperti tahun lalu. Jika tahun lalu sehabis dari Tanjung Balai Karimun, balik ke Jakarta langsung ke proyek ini, namun hanya sebentar saja kemudian ada nota dinas ke Makassar. Pas Makassar ya Akhir-akhir bulan agustus tahun 2011 lalu. Nah sekarang saya harus meninggalkan Makassar hampir satu tahun saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota Anging Mammiri ini.

Hampir satu tahun di Makassar banyak sekali hal berharga yang ditemukan disini. Pada waktu pas datang pertama kali, proyek ini begitu ribetnya, namun perlahan tapi pasti bangunan di proyek sudah jadi. Mulai dari Tim yang solid de el el.

Satu yang berkesan dari Makassar adalah MAKANAN. Oke deh, boleh nih bagi-bagi tempat makan Favorit di Makassar. Pertama Pisan Ijo La Macca, pas didepannya Tower Phinisi UNM, tempat makan pisan ijo sambil mengamati perkembangan proyek.


Untuk Coto ada banyak namun yang menurut saya enak itu adalah coto Jl. AP Petaranni yang ujung dekat jalan layang. Kalau dari arah Selatan lurus aja, sebelum perempatan jembatan, di kanan jalan ada coto, enak banget disitu cotonya, sebenarnya ditempat lain ada coto gagak, coto serigala tapi saya kurang suka.


Selanjutnya bakso sentosa di Jalan Penghibur pantai Losari, coba deh bakso ikannya, sangat mak nyooss. Sehingga menjadi langganan saya. Selain enak, harganya juga tidak terlalu menguras kocek.


Nominasi untuk sarabak, harus coba sarabak di Jalan Sungai Cerekang, depannya Grestelina. Penjualnya sih ibu-ibu yang biasanya suka terlihat mengantuk dan ketiduran saat berjaga. Namun rasa sarabaknya menurut saya terwahid di Makassar, bener-bener tidak bikin nek, seperti kebanyakan, apalagi ditambah telo gorengnya.

Kategori Pisang Epe, harus coba jalan penghibur, pas dekat ATM BNI dan Mandiri, disebelanya ada pertigaan, lha penjualnya ada dipertigaan situ. Dengan kondisi terbuka, makanya saya sarankan jangan kesitu pas hujan. Nikmat sekali pisang epe disutu. Pokoknya kalau sobat datang ke Pantai Losari Jangan Lupa cicipi pisang epe disitu.

Palu Basa, dari beberapa tempat yang ada, saya rekomendetkan ke di Palu Basa Jln. RS Faisal. Kalau dari Pettarani, belok ke arah RS Faisal, dari petarani tersebut kurang lebih 50 menter di sebelah kanan. Biasanya saya pesan Palu basa alasnya dua ples nasi dan teh botol sosro sudah cukup nampol. Sedikit tips, di Makassar ini banyak sekali makanan berlemak jahat, makanya imbangi dengan memberi jeruk nipis, dikecrutin saja.


Konro, saya tidak bisa berkata banyak, karena saya tidak terlalu suka konro, ada yang terkenal yaitu konro karebosi, tapi menurut saya kok biasa saja ya. Selanjutnya Menu Favorit yaitu bebek, untuk mendapatkan menu bebek saya rekomendasikan di Warung Cobek-cobek Di Jalan Bulevard dibelakangnya mall Pannakukkang atau di Warung Pak Ndut depannya Ratu Indah Mall.


Ada Juga rumah makan seperti Dinar, ratu gurih dan popsa dan lain-lain tapi saya jarang, kesana biasanya pas ada makan bersama aja. Serta jenis makanan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu disini, seperti Sob saudara, palu mara de el el. Untuk tempat rekreasi sekitar Makassar ada Bira & Toraja (belum pernah kesana), Malino, didalam Kota sendiri Ada Pantai losari, benteng Ford Rotterdam yang pernah saya tulis disini.
Sementara tempat nongkrong favorit adalah di Pizza Hut Pettarani, biasanya kalau sudah capek dari kerja proyek di Malam hari, bisa singgah dan pesan minuman sambil baca-baca buku, adem dan bikin rileks banget. Kondisinya juga nyaman.


Itu pengalaman saya selama hampir setahun di Makassar dan tentunya pengalaman bekerja yang bisa menjadi bekal untuk melangkah kedepannya. Tapi memang banyak yang unsur kulinernya, tak bisa saya bantah setahun di Makassar berat badan saya nambah kurang lebih 20 Kg.

Dan habis lebaran ini sudah stanby di Jakarta, Proyek Baru, amanah yang harus dijalankan untuk beberapa waktu ke depan. Selumnya mudik dulu ke Kediri (YESSSSS). Ada kesan menarik juga saat bekerja di Makassar, yaitu lagu-lagu yang menemani dalam mobil saat berangkat dari Mess – Proyek atau sebaliknya dan pas saat kerja Juga, antara lain seperti Price Tag, Wish you were Here, Lagu yang menyambut kedatangan saya saat pertama kali di Makassar Nothing On You – Bruno Mars yang sering diputar oleh Rekan disebelah saya, dan yang paling fenomenal ada Michel Guang Liang – Tong Hua. Satu lagi, pas disini selalu update movie terbaru.

Btw bentar lagi mau lebaran Mohon maaf lahir batin, Marhaban ya Ramadhan 1433 H.

Uncategorized

Benteng Fort Rotterdam

Minggu sore ini kusempatkan melihat benteng Fort Rotterdam. Memang menurut saya sudah agak kadaluarsa karena semenjak akhir agustus tahun 2011 lalu dimana saya pertama kali menginjakkan kaki di Makassar, baru kali ini saya sempatkan diri melihat benteng Fort Rotterdam. Minggu sore yang cerah, setelah sampai siang di proyek, sore harinya ku tancap sepeda motor mio ku untuk berbegas ke TKP.

Kurang lebih 20 menit perjalanan sampai disana. Matahari bersinar terang karena memang waktu menunjukkan pukul jam 5 sore. Melewati pantai Losari dan sempat bertanya kepada seorang pedagang dipinggir jalan, akhirnya kutemukan juga Benteng Fort Rotterdam, patokannya dari Losari utara, melewati rumah makan Popsa maju sedikit, dikanan jalan. Parkir sepeda di depan dengan tarik seribu perak, saya masuk kedalam mengisi daftar pengunjung dan disini ada sistem SSR *sumbangan suka rela*. List nama diatas saya rata-rata diisi 2 artinya 2 ribu perak, saya ikut juga.

Mendengar dari namanya Benteng Fort Rotterdam, bayangan saya seperti benteng-benteng perang di film Troy dan lain sebagainya. Hal itu berubah seketika pada saat saya masuk kedalam. Hemat saya Benteng Fort Rotterdam ini lebih mirip komplek sekolahan ataupun musium. Kesan sejarahnya pun sedikit tertutupi dengan gedung-gedung yang berwarna bersih. Dan memang benar, karena tempat ini baru selesai dilakukan pemugaran *baca renovasi*. Untuk mengabadikan momen kunjungan itu, langsung saja aku take dengan kamera BB 9300 ku. Berikut skrinsyutnya :

Foto Situasi [Fort Rotterdam] :

Selanjutnya aku menyisir bangunan-bangunan yang ada di Benteng Fort Rotterdam ini. Disudut pojok tengah kompleks itu, saya menemukan rumah kecil, didepannya ada beberapa orang pemuda dan didalam rumah itu saya mendapati 2 orang yang asyik berdiskusi mengenai lukisan, mereka berbicara dari sini, politik, gubernur, hingga presiden. Seorang pemuda yang menurut hemat saya lebih muda dari saya dan seorang yang lebih tua. Saya mereka asyik berbicara, saya hanya diluar melihat foto-foto yang ditempel dipintu rumah yang sedang dibuka. Di foto itu saya melihat sosok orang tua yang sedang asyik berbicara didalam. Ya Orang tua itu adalah Zaenal Beta, seorang pelopor *juga bisa dibaca penemu* lukisan dari tanah.

Kemudian tak lama, saya masuk keruang itu, saat saya mau buka sepatu, bapak tua itu dengan baik bilang kepada saya agar jangan melepas sepatu. Saat masuk, saya melihat banyak sekali karya lukisan beliau yang luar biasa. Seperti tidak percaya lukisan sebagus itu terbuat dari tanah. Its really incredible and absolutely wonderful. Saya sempatkan berbincang dengan bapak Zaenal Beta, malah beliau menunjukan cara menggambar dengan tanah liat, tak butuh lama, 2 menit sebuah lukisan rumah Tongkonan dari tanah lihat sudah selesai. Berikut adalah skrinsyut saat beliu dengan antusias menunjukan cara melukis dengan tanah :

Lukisan Tanah [Karya Zaenal Beta] :

Sementara itu waktu berlalu dan kamipun berbincang. Beliau mengatakan bahwa karya seni lukisan tanah itu bukan lagi merupakan miliknya seorang, namun sudah menjadi milik bangsa kita. Beliau menghimbau kepada pemerintah untuk mempedulikan dan mendukung para seniman, beliu juga sangat takut apabila suatu saat nanti karya milik kita entah apapun itu akan dipatenkan oleh negara lain. Sehingga keseriusan pemerintah terhadap karya anak-anak bangsa memang diperlukan. Saya sendiripun menyadari bahwa dimanapun berada para seniman selalu butuh dukungan untuk mereka terus berkaya. Beliau juga menceritakan harapannya yang sangat besar pemerintah makassar terhadap para seniman dan hasil karyanya.

Tak terasa senja hari telah tiba, mataharipun mulai tenggelam. Kumandang adzan Magrib terdengar di Masjid sebelah. Dan di speaker terdengar bahwa para pengunjung harus meninggalkan Benteng Fort Rotterdam. Satu lagi pembelajaran dalam coretan kisah perjalanan hidup ini, hendaknya kita syukuri, kita jaga apa yang kita miliki saat ini. Benteng Fort Rotterdam dengan harapan dan warna-warni yang ada didalamnya.