Perjalanan (Lorong Sepi)

Malam itu belum terlalu larut, ya kira – kira pukul 9 malam lah. Waktu yang menurut saya masih sore, kebiasaan lama saat kuliah masih terbawa sih, biasa tidur malam. Jam segitu diriku keluar dari kost mau beli sesuatu untuk keperluan sarapan pagi sebelum berangkat kerja, kebiasaan yang sering saya lakukan adalah sarapan pagi dengan roti, bukan sok kebule – bulean atau meniru gaya – gaya orang barat sono, tetapi lebih dikarenakan kepraktisaannya. Apalagi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kebiasaan lama saya masih terbawa, tidur terlalu malam dan bangunnya sering kesiangan.


Nah karena itu saya suka yang cepat dan praktis, sebenarnya di depan kantor saya banyak sekali warung – warung makanan, sesekali saya kesana untuk ganti suasana, namun sehari – harinyasering sarapan pagi dengan roti. Kebetulan tempat kost sama swalayan yang mau saya tuju tidak terlalu jauh kira – kira 300 meter Indomaret, *upps.. sebut merek ya*. Kebiasaan buruk yang lain keluar saat sesampainya di toko, air liur ini memproduksi dalam jumlah yang lebih banyak tatkala mata melihat jajanan ringan French Fries, Lays Potato, Chitato dan sebangsanya. Mau tak mau itu menjadi suatu kesatuan yang berdaulat(tak terpisahkan) yang harus dibeli selain minuman ringan pengganti ion Pocari Sweat dan Roti tawar merk Sari Roti. Saat itu sebenarnya jam sembilan malam, namun jalan yang kulewati seperti lorong gelap yang tak bertuan. Terlintas difikiran “Ini katanaya kota besar, kok jam segini jalanan sepi, nggak ada pedati yang lewat!”. Sempat merinding juga setelah teringan beberapa cerita kalau di daerah sini sering terjadi tindak kejahatan.

Jalan yang sepi kulalui dengan tiap langkahku. Kuberjalan sendiri di lelapnya malam, sepertinya lampu – lampu jalanan tidak cukup memberi terang, dan kumelihat seorang bocah tertidur di jalanandengan selimutnya seperti bayi tak mimpi – tak mimpi. Kubaca cerita tentang kegagalan, lorong – lorong jalanan tak diam dan aku pun menantang bintang bintang bintang yang tak mau menggangu tidurnya. Ingin kubuka selimutnya. Ingin kubangunkan nyenyak tidurnya dan kunyanyikan lagu tentang hari – hari yang semakin tak menentu mengalir tak tentu dan terbersit dibenakku apakah “Fakir miskin dan anak – anak terlantar tidak dipelihara oleh negara”. Malam yang membuatku merenung.

Related Posts

0 Comments

  1. “Fakir miskin dan anak – anak terlantar tidak dipelihara oleh negara”

    ini isi UUD yang baru ya? relevan sih dengan keadaan sekarang. hehehe… .

  2. masih dipelihara oleh negara kok Mas, cuman harus daftar dulu dan pakai pengantar Rt/Rw (barangkali)….

    potret seperti itu bisa di jumpai di hampir seluruh jengkal tanah air ini, walu dengan cerita sdkit beda

  3. @RJ: Klo begitu kaya orang yang baru pindahan aja ya, harus lapor ke pada ketua RT. Jadi pandangan mas juga sama dengan saya bahwa memang seperti itulah realitanya sekarang!

  4. Hmmm… sarapan pagi memang perlu meskipun hanya roti (baca : sedikit) bagi yang terbiasa.

    Agak kebule-bulean khan makin guanteng, Mas.
    salam hangat di M1

  5. @Hanifarrul : mungkin kita tidak akan pernah berhenti merenung selama, masih ada sesuatu disekitar kita yang masih memerlukan. Alangkah baiknya dari renungan tersebut ada sesuatu yang bisa berikan sebagai suatu wujud usaha nyata kita.

  6. @ Cenya : pernah kapan waktu, enggak sarapan pagi. Di kantor lemes banget rasanya. Waduh mas kalo saya lebih suka menjadi pribumi walaupun item dan pendek tapi saya lebih suka dengan wajah pribumi. Lebih orisinil.

  7. Kalo menurutku memang segituh sih din, tapi mungkin juga benar atau mungkin juga salah. Namanya juga perkiraan pasti tidak tepat. Terima kasih din dah mau mampir di blogku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.