Category: Sharing

Sharing

Buku Erich Fromm “The Art of Loving”

Berawal dari cerita teman yang dengan semangat menggebu menceritakan buku dari Erich Fromm yang berjudul “The Art of Loving” ini, akhirnya saya tertarik dengan buku tersebut. Hunting ke beberapa tempat buku stok tidak ada, memang buku ini cetakan tahun 2008. Akhirnya setelah mencari-cari akhirnya ketemu juga disini. Kemudian orderlah buku tersebut. Dengan pelayanan yang sangat baik, 3 hari kemudian buku tersebut datang dari Jogja.

Sampul Belakang “The Art of Loving” dari Erich Fromm

Setelah membaca buku ini, seolah buku ini memberi tahu bagaimana mencintai yang dewasa, mencintai yang produktif, bahwa mencintai adalah seni. Bukan hanya sebuah hal yang dimulai dari jatuh cinta hingga cinta yang cenderung menginginkan tapi lebih dari itu buku ini membuka mata lebar-lebar ” The way to love”.

Sebuah kalimat yang menarik di kata pengantar buku ini :

Pada dasarnya buku kecil ini ingin menyatakan bahwa semua usaha untuk meraih cinta niscaya akan mengalami kegagalan jika tidak disertai dengan pengembangan totalitas kepribadian secara aktif demi tercapainya sebentuk orientasi produktif. Kepuasan dalam cinta individual tidak akan dapat diperoleh tanpa adanya kemampuan untuk mencintai sesama. Kepuasan tersebut juga tidak akan mungkin dicapai tanpa adanya sikap rendah hati, berani, percaya dan disiplin.

Menurut saya buku ini recommanded banget untuk menambah wawasan para pembacanya serta dapat menambah sikap positif dalam sikap mencintai. Untuk lebih detailnya silahkan baca bukunya.

Sharing

Sinau jowo

Entah ada angin apa tiba-tiba teringat pelajaran SD dulu. Kalau waktu SD dulu ada pelajaran Bahasa Jawa. Pada suatu bab diajarkan tentang Kiroto Boso. Tadi tiba-tiba saja kepikiran Kiroto Boso. Kiroto Boso kalau saya artikan dalam bahasa saya adalah suatu kata yang berasal dari dua kata atau lebih dimana kedua kata atau lebih menjelaskan makna dari kata utama tadi. Lha penjelasan saya membingungkan kan? Biar sama-sama tidak bingung langsung kita lihat tembung tulodho :

Gelas artinya yen tuGEL ra iso di LAS. Perawan artinya yen PEPORO wayah aWAN. Garwo artinya SaiGAR nyoWO. Cengkir = Kencenge Pikir. Guru artinya di gugu lan ditiru. Sandal artinya nek wis disandang ndhang budhal. Dan sebagainya.

Saya tidak tau makna yang lebih mendalam tentang kiroto boso secara benar sesuai kurikulum pelajaran bahasa jawa. Tapi yang saya pahami seperti diatas. Pernah juga waktu kecil saya mendengar percakapan dari tetangga diwarung sebelah rumah ” Pas geblake mbilung, biasanya tidak apa tapi kali ini jatuh” kata geblake mbilung dari percakapan diatas menurut saya mempunyai arti pas sialnya.  Ketika saya lebih jauh menelaah kata “geblake mbilung”, geblak artinya jatuh sedangkan mbilung kalau saya cari-cari dari wikipedia ketemu dan dijelaskan sebagai berikut:

Bilung adalah seorang raksasa kecil yang berteman dengan para Punakawan. Dia adalah sahabat dari Togog dan ke mana-mana selalu berdua. Bilung digambarkan sebagai tokoh dari luar Jawa yaitu Melayu. Bilung sering kali menggunakan bahasa campuran Jawa & Melayu. Setiap bertemu dengan Petruk, dia selalu menantang berkelahi dan mengeluarkan suara kokok seperti ayam jago. Tapi, sekali dipukul oleh Petruk, dia langsung kalah dan menangis. Dalam beberapa cerita wayang, Bilung yang punya nama lain Sarawita ini kadang-kadang berperan menjadi Punakawan yang memihak musuh. Biasanya, Bilung akan memberi masukan yang baik kepada majikannya. Tetapi, bila masukannya tidak didengarkan oleh majikannya, dia akan berbalik memberi berbagai masukan yang buruk.

Kalau dilihat dari wikipedia diatas, mbilung itu cengeng, suka berkamuflase. Jika saya gabungkan kata geblake mbilung mungkin jatuhnya orang yang tak berpendirian. Tapi kok tidak nyambung dengan “pas sialnya” seperti yang saya jelaskan diatas. Mungkin saja pemahaman saya saja yang kurang pas. Atau mungkin ada yang tahu ?

Sekian dulu ingat-ingat pelajaran jawa nya. Seperti huruf jawa “bo” kemudian diberi “layar” dibacanya “bar” alias selesai. Dan ada pesan yang bagus : Sak bejo bejane wong lali isih bejo wong kang eling lan waspodo, artinya seberapa beruntungnya orang yang lupa (lalai) masih beruntung orang yang ingat (selalu waspada).